Selasa, 05 Januari 2016

Larangan CALISTUNG pada Anak Usia Dini

Prokontra larangan calistung di PAUD makin hari kian memanas. Para orangtua di kalangan masyarakat tidak sedikit untuk lebih memilih menyekolahkan anaknya di PAUD yang mengajarkan calistung dengan baik. Banyak orang tua anak usia dini yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Mereka menganggap sekolah PAUD yang mahal, mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. Sebab  kalangan orang tua ingin bahwa ketika anaknya masuk ke Sekolah Dasar sudah fasih dalam membaca menulis dan berhitung. Karena memang tidak sedikit  SD favorit untuk bisa masuk anak sudah harus bisa membaca menulis dan berhitung sehingga orang tua banyak berharap di PAUD sudah mulai diajarkan tentang calistung. Namun kenyataannya keinginan orang tua sangat bertentangan dengan aturan kurikulum Anak Usia Dini. Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, calistung tidak diperbolehkan dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. Lanjutnya, pola pengajaran PAUD akan dikembalikan pada jalurnya. Sebab, menurutnya, sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik. Calistung merupakan beban bagi anak usia dini. Sebab, idealnya anak-anak pada usia PAUD hanya dikenalkan huruf dan angka tanpa harus dipaksa membaca dan berhitung. Dampak pengaruh akibat dan bahaya apabila siswa paud di paksa untuk dapat calistung ternyata tidak sedikit jumlahnya.
Memaksa anak usia di bawah lima tahun untuk menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena 'Mental Hectic’, Mental Hectic adalah dimana anak menjadi pemberontak. Mental Hectic ini akan merasuki anak-anak saat mereka kelas 2 atau kelas 3 Sekolah Dasar. Selain itu, memaksa anak untuk menguasai calistung pada usia dini akan merusak tatanan kecerdasan mentalnya. Mereka mungkin terlihat pintar cerdas namun itu hanya secara kognitif (pengetahuan). Namun tatanan kecerdasan otak yang lain akan terganggu misalnya  kemampuan dalam penalaran dan karakter (akhlaq) akan terganggu dan sangat rendah. Di era globalisasi seperti sekarang ini banyak budaya barat yang masuk ke Indonesia dan banyak pula pengaruh negatif maka ditekankan untuk menanamkan pendidikan karakter sejak Usia Dini sebagai bekal tumbuh kembangnya dalam menghadapi situasi yang kian mengkhawatirkan.
Usia dini adalah masa yang berada pada periode emas tumbuh kembang yang sangat penting dikenalkan pada keaksaraan. Karena pada periode emas tersebut anak akan paling banyak dalam hal menyerap apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Mengenalkan keaksaraan pada anak adalah dengan cara mengenalkan aksara yang berhubungan dengan dirinya sendiri seperti mengenalkan cara menyebut nama dirinya sendiri, nama orangtua, nama anggota keluarga, nama gurunya, serta nama teman-temannya.
Lalu apa yang seharusnya di ajarkan di Pendidikan Anak Usia Dini?
Pertama dengan menumbuhkan lebih banyak penguasaan kosa kata. Kedua dengan mengenalkan lingkungan beraksara dengan mengajak berkomunikasi melalu dongeng dan nyanyian. Yang ketiga mendongeng dan membacakan buku yang berimajinatif dan kreatif. Dan yang keempat adalah membantu anak untuk menjelajah kekayaan  bahasa dengan mengenalkan bahasa ibu dan bahasa daerah.
Lalu dengan cara bagaimana jika kita ingin mengajarkan calistung yang baik dan benar supaya tidak merusak tatanan otak anak ?
Misalnya pertama kita ajarkan menghitung jumlah anggota siswa di dalam kelas dengan berhitung dari 1 hingga 10 secara berkeliling. Yang kedua menghitung jari tangan dirinya sendiri maupun teman sampingnya. Ketiga misalnya melihat meja di dalam kelas lalu kita tulis dengan tulisan garis putus-putus kemudian siswa di minta untuk menyambung kata MEJA yang ditulis dengan garis putus-putus.
Pembelajaran pendidikan yang diberikan di PAUD seharusnya hanya sebatas menanamkan nilai dasar, konsep dasar dan ketrampilan dasar untuk mempersiapkan anak-anak masuk taman kanak-kanak.

Sekian dan semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar