Prokontra
larangan calistung di PAUD makin hari kian memanas. Para orangtua di kalangan
masyarakat tidak sedikit untuk lebih memilih menyekolahkan anaknya di PAUD yang
mengajarkan calistung dengan baik. Banyak orang tua anak usia dini yang
terjebak saat memilih sekolah PAUD. Mereka menganggap sekolah PAUD yang mahal,
mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. Sebab kalangan orang tua ingin bahwa ketika anaknya
masuk ke Sekolah Dasar sudah fasih dalam membaca menulis dan berhitung. Karena memang
tidak sedikit SD favorit untuk bisa
masuk anak sudah harus bisa membaca menulis dan berhitung sehingga orang tua
banyak berharap di PAUD sudah mulai diajarkan tentang calistung. Namun kenyataannya
keinginan orang tua sangat bertentangan dengan aturan kurikulum Anak Usia Dini.
Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, calistung tidak
diperbolehkan dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. Lanjutnya, pola
pengajaran PAUD akan dikembalikan pada jalurnya. Sebab, menurutnya, sekolah
PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk
bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik. Calistung merupakan beban
bagi anak usia dini. Sebab, idealnya anak-anak pada usia PAUD hanya dikenalkan
huruf dan angka tanpa harus dipaksa membaca dan berhitung. Dampak pengaruh
akibat dan bahaya apabila siswa paud di paksa untuk dapat calistung ternyata
tidak sedikit jumlahnya.
Memaksa
anak usia di bawah lima tahun untuk menguasai calistung dapat menyebabkan si
anak terkena 'Mental Hectic’, Mental Hectic adalah dimana anak menjadi
pemberontak. Mental Hectic ini akan merasuki anak-anak saat mereka kelas 2 atau
kelas 3 Sekolah Dasar. Selain itu, memaksa anak untuk menguasai calistung pada
usia dini akan merusak tatanan kecerdasan mentalnya. Mereka mungkin terlihat
pintar cerdas namun itu hanya secara kognitif (pengetahuan). Namun tatanan
kecerdasan otak yang lain akan terganggu misalnya kemampuan dalam penalaran dan karakter
(akhlaq) akan terganggu dan sangat rendah. Di era globalisasi seperti sekarang
ini banyak budaya barat yang masuk ke Indonesia dan banyak pula pengaruh negatif
maka ditekankan untuk menanamkan pendidikan karakter sejak Usia Dini sebagai
bekal tumbuh kembangnya dalam menghadapi situasi yang kian mengkhawatirkan.
Usia
dini adalah masa yang berada pada periode emas tumbuh kembang yang sangat
penting dikenalkan pada keaksaraan. Karena pada periode emas tersebut anak akan
paling banyak dalam hal menyerap apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Mengenalkan
keaksaraan pada anak adalah dengan cara mengenalkan aksara yang berhubungan
dengan dirinya sendiri seperti mengenalkan cara menyebut nama dirinya sendiri,
nama orangtua, nama anggota keluarga, nama gurunya, serta nama teman-temannya.
Lalu
apa yang seharusnya di ajarkan di Pendidikan Anak Usia Dini?
Pertama
dengan menumbuhkan lebih banyak penguasaan kosa kata. Kedua dengan mengenalkan lingkungan beraksara dengan mengajak
berkomunikasi melalu dongeng dan nyanyian. Yang ketiga mendongeng dan membacakan buku yang berimajinatif dan
kreatif. Dan yang keempat adalah membantu anak untuk menjelajah kekayaan bahasa dengan mengenalkan bahasa ibu dan
bahasa daerah.
Lalu
dengan cara bagaimana jika kita ingin mengajarkan calistung yang baik dan benar
supaya tidak merusak tatanan otak anak ?
Misalnya pertama kita ajarkan menghitung jumlah anggota siswa di dalam kelas dengan berhitung
dari 1 hingga 10 secara berkeliling. Yang kedua menghitung jari tangan dirinya
sendiri maupun teman sampingnya. Ketiga misalnya melihat meja di dalam kelas lalu
kita tulis dengan tulisan garis putus-putus kemudian siswa di minta untuk
menyambung kata MEJA yang ditulis dengan garis putus-putus.
Pembelajaran
pendidikan yang diberikan di PAUD seharusnya hanya sebatas menanamkan nilai
dasar, konsep dasar dan ketrampilan dasar untuk mempersiapkan anak-anak masuk
taman kanak-kanak.
Sekian
dan semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar