Selasa, 05 Januari 2016

Larangan CALISTUNG pada Anak Usia Dini

Prokontra larangan calistung di PAUD makin hari kian memanas. Para orangtua di kalangan masyarakat tidak sedikit untuk lebih memilih menyekolahkan anaknya di PAUD yang mengajarkan calistung dengan baik. Banyak orang tua anak usia dini yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Mereka menganggap sekolah PAUD yang mahal, mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. Sebab  kalangan orang tua ingin bahwa ketika anaknya masuk ke Sekolah Dasar sudah fasih dalam membaca menulis dan berhitung. Karena memang tidak sedikit  SD favorit untuk bisa masuk anak sudah harus bisa membaca menulis dan berhitung sehingga orang tua banyak berharap di PAUD sudah mulai diajarkan tentang calistung. Namun kenyataannya keinginan orang tua sangat bertentangan dengan aturan kurikulum Anak Usia Dini. Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, calistung tidak diperbolehkan dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. Lanjutnya, pola pengajaran PAUD akan dikembalikan pada jalurnya. Sebab, menurutnya, sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik. Calistung merupakan beban bagi anak usia dini. Sebab, idealnya anak-anak pada usia PAUD hanya dikenalkan huruf dan angka tanpa harus dipaksa membaca dan berhitung. Dampak pengaruh akibat dan bahaya apabila siswa paud di paksa untuk dapat calistung ternyata tidak sedikit jumlahnya.
Memaksa anak usia di bawah lima tahun untuk menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena 'Mental Hectic’, Mental Hectic adalah dimana anak menjadi pemberontak. Mental Hectic ini akan merasuki anak-anak saat mereka kelas 2 atau kelas 3 Sekolah Dasar. Selain itu, memaksa anak untuk menguasai calistung pada usia dini akan merusak tatanan kecerdasan mentalnya. Mereka mungkin terlihat pintar cerdas namun itu hanya secara kognitif (pengetahuan). Namun tatanan kecerdasan otak yang lain akan terganggu misalnya  kemampuan dalam penalaran dan karakter (akhlaq) akan terganggu dan sangat rendah. Di era globalisasi seperti sekarang ini banyak budaya barat yang masuk ke Indonesia dan banyak pula pengaruh negatif maka ditekankan untuk menanamkan pendidikan karakter sejak Usia Dini sebagai bekal tumbuh kembangnya dalam menghadapi situasi yang kian mengkhawatirkan.
Usia dini adalah masa yang berada pada periode emas tumbuh kembang yang sangat penting dikenalkan pada keaksaraan. Karena pada periode emas tersebut anak akan paling banyak dalam hal menyerap apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Mengenalkan keaksaraan pada anak adalah dengan cara mengenalkan aksara yang berhubungan dengan dirinya sendiri seperti mengenalkan cara menyebut nama dirinya sendiri, nama orangtua, nama anggota keluarga, nama gurunya, serta nama teman-temannya.
Lalu apa yang seharusnya di ajarkan di Pendidikan Anak Usia Dini?
Pertama dengan menumbuhkan lebih banyak penguasaan kosa kata. Kedua dengan mengenalkan lingkungan beraksara dengan mengajak berkomunikasi melalu dongeng dan nyanyian. Yang ketiga mendongeng dan membacakan buku yang berimajinatif dan kreatif. Dan yang keempat adalah membantu anak untuk menjelajah kekayaan  bahasa dengan mengenalkan bahasa ibu dan bahasa daerah.
Lalu dengan cara bagaimana jika kita ingin mengajarkan calistung yang baik dan benar supaya tidak merusak tatanan otak anak ?
Misalnya pertama kita ajarkan menghitung jumlah anggota siswa di dalam kelas dengan berhitung dari 1 hingga 10 secara berkeliling. Yang kedua menghitung jari tangan dirinya sendiri maupun teman sampingnya. Ketiga misalnya melihat meja di dalam kelas lalu kita tulis dengan tulisan garis putus-putus kemudian siswa di minta untuk menyambung kata MEJA yang ditulis dengan garis putus-putus.
Pembelajaran pendidikan yang diberikan di PAUD seharusnya hanya sebatas menanamkan nilai dasar, konsep dasar dan ketrampilan dasar untuk mempersiapkan anak-anak masuk taman kanak-kanak.

Sekian dan semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua J

Sabtu, 02 Januari 2016

Menyikapi kegalauan

Manusia, sebagai kodratnya memang makhluk yang selalu mempunyai permasalahan dengan kompleksitas yang sangat tinggi. Harus mempunyai visi, harus memiliki misi dalam menjalani segi-segi kehidupan yang mungkin kurang bersahabat ini. Manusia terlahir dengan sosok yang dinamis, penuh impian, penuh harapan, penuh semangat, penuh keberhasilan dan yang terakhir yang paling tidak manusia inginkan adalah penuh dengan “gundah gulana, galau” dan penuh kegagalan.
Ya, sekarang kata ini sedang lagi trend di dunia pertemanan Indonesia “Gundah Gulana, Galau”. Gundah Gulana / Galau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ga-lau a, ber-ga-lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak karuan (pikiran); ke-ga-lau-an n sifat (keadaan hal) galau.
Ketika keadaan atau kenyataan tidak sesuai dengan yang manusia inginkan atau harapkan maka akan menjadi sebuah masalah bagi diri manusia itu sendiri. Lantas apa yang harus dilakukan? Masalah demi masalah selalu siap menghantui kehidupan manusia. Tidak pandang bulu siapa yang diserangnya, bisa orang dewasa, orang yang tua bahkan anak usia remaja. Ada banyak cara dalam upaya untuk meredam, meringankan masalah yang ada. Ada yang dengan melakukan curhat kepada orang yang disayangi atau dipercayainya, berteriak keras ditempat sepi dan luas, hingga memecahkan sesuatu barang, atau yang lebih ekstrim lagi dengan melakukan tindakan yang melanggar hukum (minum-minuman keras, dll).Curhat? Ok-ok saja, tapi jangan tidak pada tempatnya yang akhirnya dapat membuka aib seseorang dan dapat menggunjing, misalkan curhat dengan update status via facebook. Berteriak-teriak keras? Hmm… Kalau ketahuan orang kan jadinya bisa dianggap orang gila, hehehe plus buat ganggu orang lagi. Sesuai dalam Qur’an di mana Allah SWT lebih suka dengan manusia yang lebih mempelankan suaranya dan justru tidak mengeraskannya. Memecahkan barang? Bagaimana jika yang dipecahkan perabotan milik istri atau Ibu?, pasti akan tercipta dua masalah lagi bahkan tiga karena harus menggantinya dengan uang kantong yang ternyata sedang kosong. Hehehe. Mabuk? Hmm… Saya rasa dan sarankan “JANGAN”! Ayolah jangan mau untuk menuruti nafsu setan sesaat yang jelas tujuannya mereka ingin mengajak manusia untuk ikut bersama mereka di neraka jahannam. Na’udzu billahi mindzalik… Kata orang yang sudah melakukan hal-hal semacam itu bilang, “Kalau punya masalah kita mabuk aja, kita minum pil aja, nanti pikiran akan menjadi nyaman seperti terbang tanpa beban dan masalah pun jadi hilang”. Saya berpikiran kalau manusia macam seperti itu terlalu takut akan masalah yang dihadapi dan sudah merasa menyerah serta akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung di kubu setan. Ayyolahhhbuddy, sobat dan sahabat di manapun… Janganlah kalian melakukan hal buruk semacam itu ketika memang dirasa sudah menyerah! Jangan melakukan hal yang ingin menyelesaikan masalah dan justru itu menambah rentetan panjang masalah. Kalau setelah mabuk, hilang kesadarannya dan kemudian melakukan pemukulan? Tindakan asusila? Dll? Bukannya itu menambah masalah yang ada?!!
Kesimpulannya, menurut saya, “Dalam Kamus Besar orang sukses tidak ada kata menyerah dan penyesalan yang tiada akhir”. Dari setiap yang manusia harapkan pasti selalu saja ada kendala, selalu saja ada masalah. Orang sukses memiliki perjalanan hidup yang panjang dan penuh liku ibarat tidak ada nahkoda yang hebat di laut yang tenang. Jangan mau diperdaya untuk masuk dalam jebakan kenikmatan nafsu setan sesaat yang deritanya sangat amat berat dan lama. Lakukan dengan kerja keras/berusaha dilanjutkan berdoa dan kemudian tawakkal. Sesuai dengan Quran Surat Ar-Ra’d ayat 11, yang artinya "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka".

Referensi:

AlQuran
http://kamus.sabda.org/kamus/galau/

Kamis, 31 Desember 2015

Menjadi Profesi Guru yang Dibanggakan untuk mendukung motivasi belajar siswa

Siapa sih yang gak mau jadi kebanggakan siswa ? Menjadi kebanggaan siswanya adalah suatu hal yang sangat di idam-idamkan oleh semua Guru. Menjadi guru idaman siswa akan membuat siswa tersebut bahagia 20 tahun kemudian, karena kenangan yang direkam oleh anak-anak akan selalu terekam dalam ingatannya. Guru yang penuh dengan cinta mengisi ruang yang ditinggalkan orang tua yang bekerja dan kurang dapat mencurahkan perhatian yang cukup untuk anak mereka. Guru tidak hanya sekedar mengajar, mereka bisa menjadi seseorang yang penting yang membantu individu untuk tumbuh, mengerti dunia dan mengerti diri mereka sendiri.
Demi  kelangsungan dan keberhasilan proses belajar mengajar bukan hanya dipengaruhi oleh faktor intelektual yang di miliki oleh siswa saja, melainkan juga oleh faktor-faktor nonintelektual lain yang tidak kalah penting dalam memotivasi belajar seseorang. Motivasi belajar sangatlah penting dalam kegiatan belajar mengajar. Sebab dengan adanya motivasi  akan mendorong semangat belajar siswa. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar. Seorang siswa yang belajar tanpa motivasi tidak akan berhasil dengan maksimal. Salah satunya agar memunculkan motivasi siswa yaitu menjadi guru yang di banggakan siswanya. Jika kita tidak dapat menarik perhatian siswa maka kita tidak akan bisa menjadi guru yang di banggakan siswanya. Menjadi guru yang kurang menarik perhatian maka siswa akan merasa bosan. Bosan akan memicu siswa untuk tidak semangat lagi dalam belajar akibatnya prestasi siswa akan menjadi turun dan tidak maksimal lagi.
Siapa juga sih yang tidak mau jika siswa anda masih menghubungai anda  meskipun sudah bertahun-tahun ia sudah tidak menjadi siswa anda? Mengapa siswa selalu mengingat dan menempatkan gurunya dalam posisi yang istimewa? Pasti semua guru mau kan jadi guru yang di banggakan siswanya..
Lalu bagaimana agar kita sebagai calon guru agar menjadi guru yang sangat di banggakan oleh siswanya? Menyenangkan bagi siswanya ? agar prestasi siswanya menjadi maksimal?
Menjadi seorang guru yang selalu di banggakan siswanya tidaklah sangat mudah seperti yang kita bayangkan. Tetapi jika kita sudah mempunyai niatan dan terus berusaha untuk menjadi guru yang di banggakan siswanya pasti kita dapat meraihnya. Gaya bicara, berpenampilan kita akan ikut berbicara dan akan dinilai oleh siswa kita. Sehingga penampilan, gaya bicara, antusias dikelas juga dapat mempengaruhi minat belajar siswa. Faktanya jika kita memiliki gaya bicara yang kasar, mengajar tidak menggunakan perasaan dan hati yang lembut maka siswapun akan menjadi malas dengan guru tersebut. Menjadi guru yang di banggakan adalah guru yang mampu mengalihkan situasi dari yang membosankan hingga menjadikan situasi menjadi senang dan menjadi pusat perhatian siswanya. Dan dalam pelajarannya guru mampu memberikan berbagai macam materi – materi yang sangat menarik dengan mengembangkan kreativitasnya untuk anak-anak. Mengajar itu menyangkut bentuk hubungan unik antara guru dan siswanya, bentuk yang bisa dialami namun tidak sepenuhnya bisa didefinisikan, mengapa sulit didefinisikan? Karena mengajar tidak sekedar kerja tidak sekedar mengajar karena mengajar menggunakan otak namun juga menggunakan hati yang lembut dan juga perasaan. Bisa kita bayangkan jika seorang guru yang mengajar tidak menggunakan hati dan perasaan, tidak menggunakan kecintaannya pada  murid dan juga pekerjaannya maka siswanya akan merasa malas dan tidak mempunyai motivasi dalam belajarnya alhasil siswa tersebut tidak akan berhasil.
Mengajar dengan cinta merupakan modal yang penting untuk menjalani profesi sebagai guru. Mencintai profesi sebagai guru akan semakin mulia ketika ia didasarkan oleh kepatuhan pada sang pencipta, sehingga pekerjaannya menjadi sebuah ibadah. Ketika hal itu sudah  menjadi motivasi maka ia akan menghargai pekerjaannya , memberikan yang terbaik, tidak pernah berhenti untuk dapat menyuguhkan yang terbaik serta memuliakan pekerjaannya sehingga dapat menjadi guru yang selalu di banggakan oleh siswanya.

PENGEMBANGAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN IPS SD

BAB 1
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata mengajar berasal dari kata dasar ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan pe dan akhiran an menjadi pembelajaran, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar (KBBI). Reformasi pendidikan memunculkan pembelajaran dalam 4 hal : learning to know, learning to do, lerning to be, learning to life together. UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas (pasal 1): pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Seorang arsitek yang professional, sebelum ia membangun sebuah gedung, terlebih dahulu ia akan merancang bentuk gedung yang sesuai denga struktur dan kondisi tanah, selanjutnya ia akan menentukan berbagai bahan yang dibutuhkan, menghitung biaya yang diperlukan termasuk menentukan berapa jumlah pegawai yang dibutuhkan. Mengapa seorang arsitek perlu melakukan semua itu? Itulah pentingnya perencanaan, begitu juga halnya dalam pembelajaran.
Berangkat dari hal tersebut diatas guru memilik peranan yang strategis sebagai perancang/perencana pembelajaran agar pembelajaran tersebut berhasil dan bermutu. Perencanaan yang merupakan bagian dari desain pembelajaran itu sendiri merupakan proses awal penyusunan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan perencanaan tersebut dapat disusun dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan keinginan yang membuat perencanaan. Dan yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat haruslah dapat dilaksanakan dengan mudah dan tepat sasaran, bukan malah membuat sulit pelaksanaanya.
Begitu halnya dengan perencanaan pembelajaran, yang direncanakan harus sesuai dengan target atau tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan. Disini Guru yang bertugas membuat perencanaan pembelajaran dituntut harus dapat menyusun berbagai program yang terkait dengan pengajaran sesuai dengan metode, pendekatan dan strategi yang akan digunakan.
Begitu urgennya perencanaan pembelajaran ini dalam pendidikan, maka dalam makalah yang berjudul perencanaan pembelajaran ini akan dibahas hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan pembelajaran.
B.       Rumusan Masalah
Dari masalah–masalah yang telah dirumuskan, maka dapat diketahui rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1.      Apa pengertian perencanaan pembelajaran?
2.      Apa dasar pentingnya perencanaan pembelajararan?
3.      Apa manfaat perencanaan pembelajaran?
4.      Bagaimana prinsip perencanaan pembelajaran?
5.      Apa tujuan dan fungsi perencanaan pembelajaran?
C.      Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, tujuan yang akan dicapai untuk mengetahui tentang:
1.      Untuk mengetahui pengertian perencanaan pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui dasar pentingnya perencanaan pembelajararan.
3.      Untuk mengetahui manfaat perencanaan pembelajaran.
4.      Untuk mengetahui prinsip perencanaan pembelajaran.
5.      Untuk mengetahui dan fungsi perencanaan pembelajaran.





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Dilihat dari terminologinya, perencanaan pembelajaran terdiri atas dua kata, yakni kata perencanaan dan kata pembelajaran. Untuk memahami konsep dasar perencanaan pembelajaran, marilah kita lihat dua hal di atas.
Pertama, perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, proses suatu perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian menerapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika kita merencanakan, maka pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien. Ely (1979), mengatakan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Pendapat di atas menggambarkan, bahwa suatu perencanaan diawali dengan adanya target atau Ely mengistilahkan dengan kata “hasil” yang harus dicapai, selanjutnya berdasarkan penetapan target tersebut dipikirkan bagimana cara menggapainya. Sejalan dengan pendapat di atas Kaufman (1972) memandang bahwa perencanaan itu adalah sebagai suatu proses untuk menetapkan “kemana harus pergi” dan bagaimana untuk sampai ke “tempat” itu dengan cara yang paling efektif dan efisien. Menetapkan “kemana harus pergi” mengandung pengertian sama dengan merumuskan tujuandan sasaran yang akan dituju; sedangkan merumuskan “bagaimana agar sampai ketempat itu” berarti menyusun langkah-langkah yang dianggap efektif dalam rangka pencapaian tujuan. Sebuah rencana adalah sebuah dokumen dari hasil kegiatan.
Sejalan dengan pendapat di atas, juga Terry (1993) mengungkapkan bahwa perencanaan itu pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dari pendapat di atas, maka setiap perencanaan minimal harus memiliki empat unsur sebagai berikut :
1.    Adanya tujuan yang harus dicapai.
2.    Adanya strategi untuk mencapai tujuan.
3.    Sumber daya yang dapat mendukung.
4.    Implementasi setiap keputusan.
Tujuan merupakan arah yang harus dicapai. Agar perencanaan dapat disusun dan ditentukan dengan baik, maka tujuan itu perlu dirumuskan dalam bentuk sasaran yang jelas dan terukur. Dengan adanya sasaran yang jelas, maka ada target yang harus dicapai. Target itulah yang selanjutnya menjadi fokus dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Strategi berkaitan dengan penetapan keputusan yang harus dilakukan oleh seorang perencana, misalnya keputusan tentang waktu pelaksanaan dan jumlah waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan, pembagian tugas dan wewenang setiap orang yang terlibat, langkah-langkah yang harus dikerjakan oleh setiap orang yang terlibat, penetapan kriteria keberhasilan, dan lain sebagainya.
Penetapan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan, di dalamnya meliputi penetapan sarana dan prasarana yang diperlukan, anggaran biaya dan sumber daya lainnya, misalnya pemanfaatan waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Implementasi  adalah pelaksanaan dari strategi dan penetapan sumber daya. Implementasi merupakan unsur penting dalam proses perencanaan. Untuk menilai efektifitas suatu perencanaan dapat dilihat dari implementasinya. Apalah artinya sebuah keputusan yang tekad diambil, tanpa diimplementasikan dalam kegiatan nyata.
Dari unsur-unsur perencanaan yang telah dikemukakan di muka, maka suatu perencanaan bukan harapan yang ada dalam angan-angan yang bersifat khayalan dan tersimpan dalam benak seseorang, akan tetapi harapan dan angan-angan serta bagaimana langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk mencapainya dideskripsikan secara jelas dalam suatu dokumen tertulis, sehingga dokumen itu dapat dijadikan pedoman oleh setiap orang yang memerlukannya.
Perencanaan merupakan hasil proses berpikir yang mendalam; hasil dari proses pengkajian dan mungkin penyeleksian dari berbagai alternatif yang dianggap lebih memiliki nilai efektivitas dan efisiensi. Perencanaan adalah awal dari semua proses suatu pelaksanaan kegiatan yang bersifat rasional. Dengan demikian, maka seorang perencana harus dapat memvisualisasikan arah dan tujuan yang harus dicapai serta bagaimana cara untuk mencapai tujuan tersebut melalui pemanfaatan berbagai potensi yang ada agar proses pencapaian tujuan itu efektif dan efisien.
Kedua, arti pembelajaran. Apa yang disebut dengan pembelajaran itu? Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat, dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada di luar diri siswa seperti lingkungan, saran dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Sebagai suatu proses kerja sama, pembelajaran tidak hanya menitik beratkan pada kegiatan guru atau kegiatan siswa saja, akan tetapi guru dan siswa secara bersama-sama berusaha mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan demikian, kesadaran dan keterpahaman guru dan siswa akan tujuan pembelajaran yang telah harus dicapai dalam proses pembelajaran merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar, sehingga dalam prosesnya, guru dan siswa mengarah pada tujuan yang sama.
Sering terjadi, dalam suatu peristiwa mengajar dan belajar, antara guru dan siswa tidak berhubungan. Guru asyik menjelaskan materi pelajaran di depan kelas, sementara itu di bangku siswa juga asyik dengan kegiatannya sendiri, melamun, mengobrol atau bahkan mengantuk. Siswa tidak peduli apa yang dikatakan guru; dan guru tidak ambil pusing dengan apa yang dikerjakan siswa. Bagi guru yang demikian, yang penting adalah materi pelajaran sudah tersampaikan, tidak peduli materi itu dipahami atau tidak. Apakah dalam peristiwa mengajar dan belajar semacam ini telah terjadi proses pembelajaran? Tidak bukan? Ya, tentu tidak. Dalam peristiwa semacam ini tidak terjadi proses pembelajaran, karena dua komponen penting dalam sistem pembelajaran tidak terjadi kerja sama. Dalam suatu peristiwa mengajar dan belajar dikatakan terjadi pembelajaran, manakala guru dan siswa secara sadar bersama-sama mengarah pada tujuan yang sama. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa dalam suatu proses pembelajaran selama memanfaatkan segala potensi yang dimiliki untuk keberhasilan belajar.
Pembelajaran adalah terjemahan dari “instruction”, yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi Kognitif-holistik, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan. Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio dan lain sebagainya, sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, dari guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator dalam belajar mengajar. Hal ini seperti yang diungkapkan Gagne (1992), yang menyatakan bahwa “instruction is a set of event that effect learners in such a way that learning is facilitated”. Oleh karena itu menurut Gagne, mengajar atau “teaching” merupakan bagian dari pembelajaran (instruction), dimana peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu. Lebih lengkap Gagne menyatakan :
“Why do we speak of instruction rather than teaching? It is because we wish to describe all of the events that may have a direct effect on the learning of a human being, not just those set in motion by individual who is a teacher. Instruction may include events that are generated by a page of print, by a picture, by a television program, or by combination of physical objects, among other thing. Of course, a teacher may play an essential role in the arramgement of any these events (Gagne 1992)”.
Kemudian selanjutnya, apakah tujuan pembelajaran tertentu itu? Tujuan pembelajaran pada hakikatnya adalah perubahan perilaku siswa baik perubahan perilaku dalam bidang kognitif, efektif maupun psikomotorik. Pengembangan perilaku dalam kognitif secara sederhana adalah pengembangan kemampuan intelektual siswa, misalnya kemampuan penambahan wawasan dan penambahan informasi agar pengetahuan siswa lebih baik. Pengembangan perilaku dalam bidang efektif adalah pengembangan sikap siswa baik pengembangan sikap dalam arti sempit maupun dalam arti luas. Dalam arti sempit adalah sikap siswa terhadap bahan dan proses pembelajaran; sedangkan dalam arti luas adalah pengembangan sikap sesuai dengan norma-norma masyarakat.pengembangan keterampilan, adalah pengembangan kemampuan motorik baik motorik kasar maupun motorik halus. Motorik kasar adalah keterampilan menggunakan otot, misalnya keterampilan menggunakan alat tertentu; sedangkan keterampilan motorik halus adalah keterampilan menggunakan potensi otak misalnya keterampilan memecahkan suatu persoalan. Oleh karena tujuan belajar itu berbeda, maka selanjutnya memerlukan desain perencanaan pembelajaran yang berbeda juga.
Dari kedua makna tentang konsep perencanaan dan konsep pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Hasil akhir dari proses pengambilan keputusan tersebut adalah tersusunnya dokumen yang berisi tentang hal-hal di atas, sehingga selanjutnya dokumen tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dan pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Dari konsep tersebut, maka jelas perencanaan pembelajaran memiliki karakteristik sebagai berikut ;
1.         Perencanaan pembelajaran merupakan hasil dari proses berpikir, artinya suatu perencanaan pembelajaran disusun tidak asal-asalan akan tetapi disusun dengan mempertimbangkan segala aspek yang mungkin dapat berpengaruh, disamping disusun dengan mempertimbangkan segala sumber daya yang tersedia yang dapat mendukung terhadap keberhasilan proses pembelajaran.
2.         Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ini berarti fokus utama dalam perencanaan pembalajaran adalah ketercapaian tujuan.
3.         Perencanaan pembelajaran berisi tentang rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itulah, perencanaan pembelajaran dapat berfungsi sebagai pedoman dalam mendesain pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.
B.       Dasar Pentingnya Perencanaan Pembelajaran
Bagi seorang profesional merencanakan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab profesinya merupakan tahapan yang tidak boleh ditinggalkan. Menurut Deshimer (1990) ada dua alasan perlunya perencanaan : Pertama, hakikat manusia yang memiliki kemampuan dan pilihan untuk berkreasi sesuai dengan pandangannya. Seorang profesional dapat menentukan waktu dan cara bertindak yang dianggap sesuai; Kedua, setiap manusia hidup dalam kelompok yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga selamanya membutuhkan koordinasi dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Dengan demikian, suatu pekerjaan akan berhasil manakala semua yang terlibat dapat bekerja sesuai denagn perannya masing-masing. Dua hal itulah selanjutnya dibutuhkan perencanaan yang matang untuk mengerjakan sesuatu.
Nah, sekarang bagaimana dengan pembelajaran. Apakah seorang guru perlu melakukan perencanaan? Kalau kita percaya guru sebagai pekerjaan profesional, tentu saja setiap guru yang akan melaksnakan pekerjaannya perlu melakukan perencanaan. Mengapa perencanaan pembelajaran dibutuhkan? Hal ini disebabkan beberapa hal.
Pertama, pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Sederhana apa pun proses pembelajaran yang dibangun oleh guru, proses tersebut diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Guru yang hanya melaksnakan proses pembelajaran dengan menggunakan ceramah, tentu saja ceramahnya guru diarahkan untuk mencapai tujuan; demikian juga guru yang melakukan proses pembelajaran dengan menganalisis kasus, maka proses analisis kasus itu adalah proses yang bertujuan. Dengan demikian semakin kompleks tujuan yang harus dicapai, maka semakin kompleks pula proses pembelajaran yang berarti akan semakin kompleks pula perencanaan yang harus disusun oleh guru.
Kedua, pembelajaran adalah proses kerja sama. Proses pembelajaran minimal akan melibatkan guru dan siswa. Guru tidak mungkin berjalan sendiri tanpa keterlibatan siswa. Dalam suatu proses pembelajaran guru tanpa siswa tidak akan memiliki makna. Bukankah segala upaya guru diarahkan untuk membelajarkan siswa? Apalah artinya guru sebagai pengelola pembelajaran tanpa siswa yang dikelola? Demikian juga halnya, siswa tanpa guru dalam proses pembelajaran tidak mungkin berjalan efektif, apalagi untuk siswa yang masih memerlukan bimbingan sepenuhnya pada guru, misalnya siswa pada tingkat pendidikan dasar, maka peran guru sangat diperlukan. Dengan demikian, dalam proses pembelajaran guru dan siswa perlu bekerja sama secara harmonis. Di sini pentingya perencanaan pembelajaran. Guru perlu merencanakan apa yang harus dilakukan oleh siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, di samping guru juga harus merencanakan apa yang sebaiknya diperankan oleh dirinya sebagai pengelola pembelajaran.
Ketiga, proses pembelajaran adalah proses yang kompleks. Pembelajaran bukan hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi suatu pembentukan perilaku siswa. Siswa adalah organisma yang unik, yang sedang berkembang. Siswa bukan benda mati yang dapat diatur begitu saja. Mereka memiliki minat dan bakat yang berbeda; mereka juga memiliki gaya belajar yang berbeda. Itulah sebabnya proses pembelajaran adalah proses yang kompleks, yang harus memperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Kemungkinan-kemungkinan itulah yang selanjutnya memerlukan perencanaan yang matang dari setiap guru.
Keempat, proses pembelajaran kan efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang tersedia termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar. Salah satu kelemahan guru dewasa ini dalam pengelolaan pembelajaran adalah kurangnya pemanfaatan saran dan prasarana yang tersedia. Dibandingkan dengan profesi lain, guru termasuk profesi yang sangat lambat dalam memanfaatkan berbagai hasil-hasil teknologi. Dewasa ini, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, begitu pesatnya kemajuan dan perkembangan hasil-hasil teknologi. Banyak sekali jenis-jenis hasil teknologi yang dapat digunakan oleh guru untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Untuk menyampaikan materi pelajaran misalnya, guru dapat memanfaatkan OHP atau LCD, dengan bantuan program komputer. Untuk memberikan sumber belajar yang lebih beragam dan mutakhir, guru dapat memanfaatkan Internet dan lain sebagainya. Proses pembelajaran akan efektif manakala guru memanfaatkan sarana dan prasarana secara tepat. Untuk itu perlu perencanaan yang matang bagaimana memanfaatkannya untuk keperluan pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Memperhatikan beberapa hal di atas, maka perencanaan pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan tidak sederhana. Proses perencanaan memerlukan pemikiran yang matang, sehingga akan berfungsi sebagi pedoman dalam mencapai tujuan pembelajaran.
C.      Manfaat Perencanaan Pembelajaran
Seperti yang kita ketahui untuk mencapai hasil yang optimal, senantiasa tersedia berbagai alternatif. Ketika kita menyusun perencanaan, tentu kita akan mengambil keputusan alternatif mana yang terbaik agar proses pencapaian tujuan berjalan secara efektif. Dengan demikian, ada beberapa manfaat yang dapat kita petik dari penyusunan proses pembelajaran.
1.    Melalui proses perencanaan untuk mencapai hasil yang matang, kita akan terhindar dari keberhasilan yang bersifat untung-untungan. Artinya, dengan perencanaan yang matang dan akurat, kita akan mampu memprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan dapat dicapai. Mengapa demikian? Sebab perencanaan disusun untuk memperoleh keberhasilan, dengan demikian kemungkinan-kemungkinan kegagalan dapat diantisipasi oleh setiap guru. Coba anda bayangkan apa yang akan terjadi manakala guru dalam proses pembelajaran tidak memahami dengan jelas tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa, strategi apa yang harus dilakukan, media dan sumber belajar apa yang harus digunakan, tentu saja proses pembelajaran akan berlangsung seadanya, dan hasilnya pun tentu saja tidak akan optimal. Bandingkan dengan guru yang pengelolaan pembelajaran direncanakan dengan matang. Misalnya guru paham tujuan apa yang harus dicapai siswa, strategi apa yang pantas dilakukan sesuai dengan tujuan, darimana sumber yang dapat digunakan, tentu saja hasilnya pun akan lebih bagus dan optimal. Inilah makna bahwa salah satu manfaat perencanaan adalah kita akan terhindar dari hasil yang bersifat untung-untungan.
2.    Sebagai alat untuk memecahkan masalah. Seorang perencana yang baik akan dapat memprediksi kesulitan apa yang akan dihadapi oleh siswa dalam mempelajari materi pelajaran tertentu. Dengan perencanaan yang matang guruakan dengan mudah mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin timbul. Kita mesti menyadari bahwa proses pembelajaran adalah proses yang kompleks dan sangat situasional. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Melalui perencanaan yang matang kita akan dengan mudah mengantisipasi sebab berbagai kemungkinan sudah diantisipasi sebelumnya.
3.    Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dewasa ini banyak sekali sumber-sumber belajar yang dianggap cocok dengan tujuan pembelajaran. Dalam rangka inilah perencanaan yang matang diperlukan. Melalui perencanaan, guru dapat menentukan sumber-sumber mana saja yang dianggap tepat untuk mempelajari suatu bahan pembelajaran.
4.    Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis artinya, proses pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, akan tetapi akan berlangsung secara terarah dan terorganisir. Dengan demikian, guru dapat menggunakan waktu seefektif mungkin untuk keberhasilan proses pembelajaran. Mengapa demikian? Sebab, melalui perencanaan yang matang guru akan bekerja setahap demi setahap untuk menuju perubahan yang diinginkan sesuai dengan tujuan.
D.      Prinsip Perencanann Pembelajaran
Berdasarkan pengertian-pengertian perencanaan pembelajaran di atas dapat di tarik suatu penegasan, bahwa perencanaan pembelajaran adalah sebagai kegiatan yang terus menerus dan menyeluruh, dimulai dari penyusunan suatu rencana evaluasi pelaksanaan dan hasil yang dicapai dari tujuan yang sudah ditetapkan.
Sementara dalam prakteknya, pengembangan prencanaan pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sehingga proses yang ditempuh dapat dilaksanakan secara efektif, diantara prinsip-prinsip tersebut adalah:
1.      Kompetensi yang dirumuskan dala perencanaan pembelajaran harus jelas, konkrit, kompetensi mudah diamati.
2.      Perencanaan pembelajaran bersifat sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, dan pembentukan kompetensi siswa.
3.      Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam perncanaan pembelajaran harus menunjang, dan sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan.
Prinsip-prinsip yang harus dijadikan dasar dalam merancang pembelajaran harus memenuhi unsur :
1.       Ilmiah yaitu keseluruhan materi yang dikembangkan atau dirancang oleh guru termasuk kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus dan rencana pelaksanaan dan pembelajaran, harus benar dan dapat dipertanggung jawabkan seacara keilmuan.
2.       Relevan yaitu bahwa setiap materi memiliki ruang lingkup atau cakupan dan sistematikanya atau urutan penyajiannya.
3.       Sistematis yaitu unsur perencanaan baik untuk perencanaan jenis silabus maupun perencanaan untuk rencana pelaksanaan pembelajaran, antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya harus saling terkait, mempengaruhi, menentukan dan suatu kesatuan yang utuh untuk mencapai suatu tujuan atau kompetensi.
4.       Konsisten yaitu adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, dan sistem penilaian.
5.       Memadai yaitu cakupan indikator, materi pokok, pengalaman, sumber belajar dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6.       Aktual dan kontekstual yaitu cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7.       Fleksibel yaitu keseluruhan komponen silabus maupun rencana pelaksanaan pembelajaran harus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8.       Menyeluruh yaitu komponen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran harus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
E.       Tujuan dan Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Salah satu faktor yang membawa keberhasilan pembelajaran adalah  guru senantiasa membuat perencanaan pengajaran sebelumnya. Pada garis besar perencanaan pembelajaran itu mempunyai tujuan dan fungsi untuk mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
1.         Tujuan Perencanaan
Secara ideal tujuan perencanaan pembelajaran adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar, metode dan penggunaan alat dan perlengkapan pembelajaran, menyampaikan atas dasar bahasan dan mengelola alokasi waktu yang tersedia serta membelajarkan siswa sesuai yang diprogramkan. Tujuan pembelajaran itu memungkinkan guru memilih metode yang sesuai sehingga proses pembelajaran itu mengarah dan dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Bagi guru setiap pemilihan metode berarti menentukan proses belajar mengajar mana yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Hal ini juga mengarahkan bagaimana guru mengorganisasikan kegiatan-kegiatan siswa dalam proses pembelajaran yang telah dipilihnya. Dengan demikian betapa pentingnya tujuan itu diperhatikan dan dirumuskan dalam setiap pembelajaran agar pembelajaran itu benar-benar dapat mencapai tujuan sebagaimana yang tertuang dalam kurikulum.
2.         Fungsi Perencanaan
Perencanaan pembelajaran memiliki beberapa fungsi di antaranya seperti dijelaskan berikut ini :
a.       Fungsi Kreatif
Pembelajaran dengan menggunakan perencanaan yang matang, akan dapat memberikan umpan balik yang dapat menggambarkan berbagai kelemahan yang terjadi. Melalui umpan balik itulah guru dapat meningkatkan dan memperbaiki program. Secara kreatif, guru akan selalu memperbaiki berbagai kelamahan dan menemukan hal-hal baru.
b.      Fungsi Inovatif
Mungkinkah suatu inovasi pembelajaran akan muncul tanpa direncanakan, atau tanpa diketahui terlebih dahulu berbagai kelemahan? Tidak, bukan? Suatu inovasi ahanya akan mungkin muncul  seandainya kita memahami adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Kesenjangan itu hanya mungkin dapat ditangkap manakala kita memahami proses yang dilaksanakan secara sistematis. Proses pembelajaran sistematis itulah yang direncanakan dan terprogram secara utuh. Dalam kaitan inilah perencanaan memiliki fungsi inovasi.
c.       Fungsi Selektif
Adakalanya untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran pembelajaran kita dihadapkan kepada berbagai pilihan strategi. Melalui proses perencanaan kita dapat menyeleksi strategi mana yang kita anggap lebih efektif dan efisien untuk dikembangkan. Tanpa suatu perencanaan tidak mungkin kita dapat menentukan pilihan yang tepat. Fungsi selektif ini juga berkaitan dengan pemilihan materi pelajaran yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran. Melalui proses perencanaan guru dapat menentukan materi mana yang sesuai dan materi mana yang tidak sesuai.

d.      Fungsi Komunikatif
Suatu perencanaan yang memadai harus dapat menjelaskan kepada setiap orang yang terlibat, baik kepada guru, pada siswa, kepala sekolah bahkan kepada pihak eksternal seperti kepada orang tua dan masyarakat. Dokumen perencanaan harus dapat mengomunikasikan kepada setiap orang, baik tentang tujuan dan hasil yang ingin dicapai, strategi atau rangkaian kegiatan yang dapat dilakukan. Oleh sebab itu, perencanaan memiliki fungsi komunikasi.
e.       Fungsi Prediktif
Perencanaan yang disusun secara benar dan akurat, dapat menggambarkan apa yang akan terjadi setelah dilaksanakan suatu treatment sesuai demgan program yang disusun. Melalui fungsi prediktifnya, perencanaan dapat menggambarkan berbagai kesulitan yang akan terjadi. Di samping itu, fungsi predikif dapat menggambarkan hasil yang akan diperoleh.
f.       Fungsi Akurasi
Sering terjadi, guru merasa kelebihan bahan pelajaran sehingga mereka merasa waktu yang tersedia tidak sesuai dengan banyaknya bahan yang harus dipelajari siswa. Akibatnya, proses pembelajaran berjalan tidak normal lagi, sebab kriteria keberhasilan diukur dari sejumlah materi pelajaran yang telah disampaikan pada siswa tidak peduli materi itu dipahami atau tidak. Perencanaan yang matang dapat menghindari hal tersebut. Sebab, melalui proses perencanaan guru dapat menakar setiap waktu yang diperlukan untuk menyampaikan bahan pelajaran tertentu. Guru dapat menghitung jam pelajaran efektif, melalui program perencanaan.
g.      Fungsi Pencapaian Tujuan
Mengajar bukanlah sekedar menyampaikan materi, akan tetapi membentuk manusia secara utuh. Manusia utuh bukan hanya berkembang dalam aspek intelektual saja, akan tetapi juga dalam sikap dan keterampilan. Dengan demikian pembelajaran memiliki dus sisi yang sama pentingnya, yakni sisi hasil belajar dan sisi proses belajar. Melalui perencanaan itulah kedua sisi pembelajaran dapat dilakukan secara seimbang.
h.      Fungsi Kontrol
Mengontrol keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pembelajaran tertentu. Melalui perencanaan kita dapat menentukan sejauh mana materi pelajaran telah dapat diserap oleh siswa, materi mana yang sudah dan belum dipahami oleh siswa. Dalam hal inilah perencanaan berfungsi sebagai kontrol, yang selanjutnya dapat memberikan balikan kepada guru dalam mengembangkan program pembelajaran selanjutnya.














BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.      Perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada.
2.      Perencanaan pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan tidak sederhana. Proses perencanaan memerlukan pemikiran yang matang, sehingga akan berfungsi sebagi pedoman dalam mencapai tujuan pembelajaran.
3.      Manfaat perencanaan pembelajaran adalah
a.       Melalui proses perencanaan untuk mencapai hasil yang matang, kita akan terhindar dari keberhasilan yang bersifat untung-untungan.
b.      Sebagai alat untuk memecahkan masalah.
c.       Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat.
d.      Perencanaan akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis.
4.      Prinsip-prinsip yang harus dijadikan dasar dalam merancang pembelajaran harus memenuhi unsur :
a.       Ilmiah
b.      Relevan
c.       Sistematis
d.      Konsisten
e.       Memadai
f.       Aktual
g.      Feksibel
h.      Menyeluruh
5.      Tujuan perencanaan pembelajaran adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar, metode dan penggunaan alat dan perlengkapan pembelajaran, menyampaikan atas dasar bahasan dan mengelola alokasi waktu yang tersedia serta membelajarkan siswa sesuai yang diprogramkan. Sedangkan fungsi perencanaan pembelajaran meliputi:
a.       Fungsi kreatif
b.      Fungsi inovatif
c.       Fungsi selektif
d.      Fungsi komunikatif
e.       Fungsi prediktif
f.       Fungsi akurasi
g.      Fungsi pencapaian tujuan
h.      Fungsi kontrol
B.       Saran
 Penulisan makalah ini diharapkan kepada mahasiswa dan para pembaca untuk meningkatkan pemahaman tentang perencanaan pembalajaran. Mulai dari pengertian, dasar penting, manfaat, prinsip serta tujuan dan fungsi perencanaan pembelajran.
Dengan keterbatasan pemikiran dan sumber materi yang menjadi acuan dalam pembuatan makalah ini, maka penulis harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dalam penyusunan makalah selanjutnya.










DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Bandung: Kencana Prenada Media Group.
Maya Kartika Sari, dkk. 2015. Pengembangan Pembelajaran IPS SD. Madiun: IKIP PGRI Madiun.
Hasani, Nur. 2013. Perencanaan Pembelajaran (online).
http://masnoer80.blogspot.co.id/2013/01/perencanaan-pembelajaran.html Diakses pada tanggal 4 Nopember 2015 pukul 19.30
Anonim. 2011. Tujuan Perencanaan Pembelajaran (online).
http://www.sekolahdasar.net/2011/01/tujuan-perencanaan-pembelajaran.html Diakses pada tanggal 4 Nopember 2015 pukul 19.47