BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pembelajaran
yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang
diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses,
perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar
(KBBI). Reformasi pendidikan memunculkan pembelajaran dalam 4 hal : learning to
know, learning to do, lerning to be, learning to life together. UU No. 20/2003
tentang Sisdiknas (pasal 1): pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Seorang
arsitek yang professional, sebelum ia membangun sebuah gedung, terlebih dahulu
ia akan merancang bentuk gedung yang sesuai denga struktur dan kondisi tanah,
selanjutnya ia akan menentukan berbagai bahan yang dibutuhkan, menghitung biaya
yang diperlukan termasuk menentukan berapa jumlah pegawai yang dibutuhkan. Mengapa
seorang arsitek perlu melakukan semua itu? Itulah pentingnya perencanaan,
begitu juga halnya dalam pembelajaran.
Berangkat
dari hal tersebut diatas guru memilik peranan yang strategis sebagai perancang/perencana
pembelajaran agar pembelajaran tersebut berhasil dan bermutu. Perencanaan yang
merupakan bagian dari desain pembelajaran itu sendiri merupakan proses awal
penyusunan sesuatu yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Pelaksanaan perencanaan tersebut dapat disusun dalam kurun waktu
tertentu sesuai dengan keinginan yang membuat perencanaan. Dan yang lebih utama
adalah perencanaan yang dibuat haruslah dapat dilaksanakan dengan mudah dan
tepat sasaran, bukan malah membuat sulit pelaksanaanya.
Begitu
halnya dengan perencanaan pembelajaran, yang direncanakan harus sesuai dengan
target atau tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan. Disini Guru yang
bertugas membuat perencanaan pembelajaran dituntut harus dapat menyusun
berbagai program yang terkait dengan pengajaran sesuai dengan metode,
pendekatan dan strategi yang akan digunakan.
Begitu
urgennya perencanaan pembelajaran ini dalam pendidikan, maka dalam makalah yang
berjudul “perencanaan
pembelajaran”
ini akan dibahas hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan pembelajaran.
B.
Rumusan Masalah
Dari masalah–masalah yang
telah dirumuskan, maka dapat diketahui rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1.
Apa pengertian perencanaan pembelajaran?
2.
Apa dasar pentingnya perencanaan pembelajararan?
3.
Apa manfaat perencanaan pembelajaran?
4.
Bagaimana prinsip perencanaan pembelajaran?
5.
Apa tujuan dan fungsi perencanaan pembelajaran?
C.
Tujuan Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, tujuan yang akan
dicapai untuk mengetahui tentang:
1. Untuk
mengetahui pengertian perencanaan pembelajaran.
2. Untuk
mengetahui dasar pentingnya perencanaan pembelajararan.
3. Untuk
mengetahui manfaat perencanaan pembelajaran.
4. Untuk
mengetahui prinsip perencanaan pembelajaran.
5. Untuk
mengetahui dan fungsi perencanaan pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Dilihat
dari terminologinya, perencanaan pembelajaran terdiri atas dua kata, yakni kata
perencanaan dan kata pembelajaran. Untuk memahami konsep dasar perencanaan
pembelajaran, marilah kita lihat dua hal di atas.
Pertama,
perencanaan berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang apa
yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, proses suatu
perencanaan harus dimulai dari penetapan tujuan yang akan dicapai melalui
analisis kebutuhan serta dokumen yang lengkap, kemudian menerapkan
langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika
kita merencanakan, maka pola pikir kita diarahkan bagaimana agar tujuan itu
dapat dicapai secara efektif dan efisien. Ely (1979), mengatakan bahwa
perencanaan itu pada dasarnya adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat
membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Pendapat di atas menggambarkan,
bahwa suatu perencanaan diawali dengan adanya target atau Ely mengistilahkan
dengan kata “hasil” yang harus dicapai, selanjutnya berdasarkan penetapan
target tersebut dipikirkan bagimana cara menggapainya. Sejalan dengan pendapat
di atas Kaufman (1972) memandang bahwa perencanaan itu adalah sebagai suatu
proses untuk menetapkan “kemana harus pergi” dan bagaimana untuk sampai ke
“tempat” itu dengan cara yang paling efektif dan efisien. Menetapkan “kemana
harus pergi” mengandung pengertian sama dengan merumuskan tujuandan sasaran
yang akan dituju; sedangkan merumuskan “bagaimana agar sampai ketempat itu”
berarti menyusun langkah-langkah yang dianggap efektif dalam rangka pencapaian
tujuan. Sebuah rencana adalah sebuah dokumen dari hasil kegiatan.
Sejalan
dengan pendapat di atas, juga Terry (1993) mengungkapkan bahwa perencanaan itu
pada dasarnya adalah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dari
pendapat di atas, maka setiap perencanaan minimal harus memiliki empat unsur
sebagai berikut :
1. Adanya
tujuan yang harus dicapai.
2. Adanya
strategi untuk mencapai tujuan.
3. Sumber
daya yang dapat mendukung.
4. Implementasi
setiap keputusan.
Tujuan merupakan arah yang harus dicapai. Agar
perencanaan dapat disusun dan ditentukan dengan baik, maka tujuan itu perlu
dirumuskan dalam bentuk sasaran yang jelas dan terukur. Dengan adanya sasaran
yang jelas, maka ada target yang harus dicapai. Target itulah yang selanjutnya
menjadi fokus dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Strategi berkaitan dengan penetapan keputusan yang
harus dilakukan oleh seorang perencana, misalnya keputusan tentang waktu
pelaksanaan dan jumlah waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan, pembagian
tugas dan wewenang setiap orang yang terlibat, langkah-langkah yang harus
dikerjakan oleh setiap orang yang terlibat, penetapan kriteria keberhasilan,
dan lain sebagainya.
Penetapan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai
tujuan, di dalamnya meliputi penetapan sarana dan prasarana yang diperlukan,
anggaran biaya dan sumber daya lainnya, misalnya pemanfaatan waktu yang
diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Implementasi
adalah pelaksanaan dari strategi dan penetapan sumber daya. Implementasi
merupakan unsur penting dalam proses perencanaan. Untuk menilai efektifitas
suatu perencanaan dapat dilihat dari implementasinya. Apalah artinya sebuah
keputusan yang tekad diambil, tanpa diimplementasikan dalam kegiatan nyata.
Dari unsur-unsur perencanaan yang telah dikemukakan
di muka, maka suatu perencanaan bukan harapan yang ada dalam angan-angan yang
bersifat khayalan dan tersimpan dalam benak seseorang, akan tetapi harapan dan
angan-angan serta bagaimana langkah-langkah yang harus dilaksanakan untuk
mencapainya dideskripsikan secara jelas dalam suatu dokumen tertulis, sehingga
dokumen itu dapat dijadikan pedoman oleh setiap orang yang memerlukannya.
Perencanaan merupakan hasil proses berpikir yang
mendalam; hasil dari proses pengkajian dan mungkin penyeleksian dari berbagai
alternatif yang dianggap lebih memiliki nilai efektivitas dan efisiensi.
Perencanaan adalah awal dari semua proses suatu pelaksanaan kegiatan yang
bersifat rasional. Dengan demikian, maka seorang perencana harus dapat
memvisualisasikan arah dan tujuan yang harus dicapai serta bagaimana cara untuk
mencapai tujuan tersebut melalui pemanfaatan berbagai potensi yang ada agar
proses pencapaian tujuan itu efektif dan efisien.
Kedua, arti pembelajaran. Apa yang disebut dengan
pembelajaran itu? Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara
guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik
potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat,
dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada
di luar diri siswa seperti lingkungan, saran dan sumber belajar sebagai upaya
untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Sebagai suatu proses kerja sama,
pembelajaran tidak hanya menitik beratkan pada kegiatan guru atau kegiatan
siswa saja, akan tetapi guru dan siswa secara bersama-sama berusaha mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan demikian, kesadaran dan
keterpahaman guru dan siswa akan tujuan pembelajaran yang telah harus dicapai
dalam proses pembelajaran merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar,
sehingga dalam prosesnya, guru dan siswa mengarah pada tujuan yang sama.
Sering terjadi, dalam suatu peristiwa mengajar dan
belajar, antara guru dan siswa tidak berhubungan. Guru asyik menjelaskan materi
pelajaran di depan kelas, sementara itu di bangku siswa juga asyik dengan
kegiatannya sendiri, melamun, mengobrol atau bahkan mengantuk. Siswa tidak
peduli apa yang dikatakan guru; dan guru tidak ambil pusing dengan apa yang
dikerjakan siswa. Bagi guru yang demikian, yang penting adalah materi pelajaran
sudah tersampaikan, tidak peduli materi itu dipahami atau tidak. Apakah dalam
peristiwa mengajar dan belajar semacam ini telah terjadi proses pembelajaran?
Tidak bukan? Ya, tentu tidak. Dalam peristiwa semacam ini tidak terjadi proses
pembelajaran, karena dua komponen penting dalam sistem pembelajaran tidak
terjadi kerja sama. Dalam suatu peristiwa mengajar dan belajar dikatakan
terjadi pembelajaran, manakala guru dan siswa secara sadar bersama-sama
mengarah pada tujuan yang sama. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa dalam
suatu proses pembelajaran selama memanfaatkan segala potensi yang dimiliki
untuk keberhasilan belajar.
Pembelajaran adalah terjemahan dari “instruction”, yang banyak dipakai dalam
dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran
psikologi Kognitif-holistik, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari
kegiatan. Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi
yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat
berbagai macam media seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio
dan lain sebagainya, sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan
guru dalam mengelola proses belajar mengajar, dari guru sebagai sumber belajar
menjadi guru sebagai fasilitator dalam belajar mengajar. Hal ini seperti yang
diungkapkan Gagne (1992), yang menyatakan bahwa “instruction is a set of event
that effect learners in such a way that learning is facilitated”. Oleh karena
itu menurut Gagne, mengajar atau “teaching” merupakan bagian dari pembelajaran
(instruction), dimana peran guru
lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber
dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam
mempelajari sesuatu. Lebih lengkap Gagne menyatakan :
“Why do we speak of instruction rather than
teaching? It is because we wish to describe all of the events that may have a
direct effect on the learning of a human being, not just those set in motion by
individual who is a teacher. Instruction may include events that are generated
by a page of print, by a picture, by a television program, or by combination of
physical objects, among other thing. Of course, a teacher may play an essential
role in the arramgement of any these events (Gagne 1992)”.
Kemudian selanjutnya, apakah tujuan pembelajaran
tertentu itu? Tujuan pembelajaran pada hakikatnya adalah perubahan perilaku
siswa baik perubahan perilaku dalam bidang kognitif, efektif maupun
psikomotorik. Pengembangan perilaku dalam kognitif secara sederhana adalah
pengembangan kemampuan intelektual siswa, misalnya kemampuan penambahan wawasan
dan penambahan informasi agar pengetahuan siswa lebih baik. Pengembangan
perilaku dalam bidang efektif adalah pengembangan sikap siswa baik pengembangan
sikap dalam arti sempit maupun dalam arti luas. Dalam arti sempit adalah sikap
siswa terhadap bahan dan proses pembelajaran; sedangkan dalam arti luas adalah
pengembangan sikap sesuai dengan norma-norma masyarakat.pengembangan
keterampilan, adalah pengembangan kemampuan motorik baik motorik kasar maupun
motorik halus. Motorik kasar adalah keterampilan menggunakan otot, misalnya
keterampilan menggunakan alat tertentu; sedangkan keterampilan motorik halus
adalah keterampilan menggunakan potensi otak misalnya keterampilan memecahkan
suatu persoalan. Oleh karena tujuan belajar itu berbeda, maka selanjutnya
memerlukan desain perencanaan pembelajaran yang berbeda juga.
Dari kedua makna tentang konsep perencanaan dan
konsep pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran
adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang
sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta
rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian tujuan
tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Hasil
akhir dari proses pengambilan keputusan tersebut adalah tersusunnya dokumen
yang berisi tentang hal-hal di atas, sehingga selanjutnya dokumen tersebut
dapat dijadikan sebagai acuan dan pedoman dalam melaksanakan proses
pembelajaran.
Dari konsep tersebut, maka jelas perencanaan
pembelajaran memiliki karakteristik sebagai berikut ;
1.
Perencanaan pembelajaran merupakan hasil
dari proses berpikir, artinya suatu perencanaan pembelajaran disusun tidak
asal-asalan akan tetapi disusun dengan mempertimbangkan segala aspek yang
mungkin dapat berpengaruh, disamping disusun dengan mempertimbangkan segala
sumber daya yang tersedia yang dapat mendukung terhadap keberhasilan proses
pembelajaran.
2.
Perencanaan pembelajaran disusun untuk
mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ini berarti
fokus utama dalam perencanaan pembalajaran adalah ketercapaian tujuan.
3.
Perencanaan pembelajaran berisi tentang
rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena
itulah, perencanaan pembelajaran dapat berfungsi sebagai pedoman dalam
mendesain pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.
B.
Dasar
Pentingnya Perencanaan Pembelajaran
Bagi seorang profesional merencanakan sesuai dengan
tugas dan tanggung jawab profesinya merupakan tahapan yang tidak boleh
ditinggalkan. Menurut Deshimer (1990) ada dua alasan perlunya perencanaan :
Pertama, hakikat manusia yang memiliki kemampuan dan pilihan untuk berkreasi
sesuai dengan pandangannya. Seorang profesional dapat menentukan waktu dan cara
bertindak yang dianggap sesuai; Kedua, setiap manusia hidup dalam kelompok yang
saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga selamanya membutuhkan
koordinasi dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Dengan demikian, suatu
pekerjaan akan berhasil manakala semua yang terlibat dapat bekerja sesuai
denagn perannya masing-masing. Dua hal itulah selanjutnya dibutuhkan perencanaan
yang matang untuk mengerjakan sesuatu.
Nah, sekarang bagaimana dengan pembelajaran. Apakah
seorang guru perlu melakukan perencanaan? Kalau kita percaya guru sebagai
pekerjaan profesional, tentu saja setiap guru yang akan melaksnakan
pekerjaannya perlu melakukan perencanaan. Mengapa perencanaan pembelajaran
dibutuhkan? Hal ini disebabkan beberapa hal.
Pertama, pembelajaran adalah proses yang bertujuan.
Sederhana apa pun proses pembelajaran yang dibangun oleh guru, proses tersebut
diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Guru yang hanya melaksnakan proses
pembelajaran dengan menggunakan ceramah, tentu saja ceramahnya guru diarahkan
untuk mencapai tujuan; demikian juga guru yang melakukan proses pembelajaran
dengan menganalisis kasus, maka proses analisis kasus itu adalah proses yang
bertujuan. Dengan demikian semakin kompleks tujuan yang harus dicapai, maka
semakin kompleks pula proses pembelajaran yang berarti akan semakin kompleks
pula perencanaan yang harus disusun oleh guru.
Kedua, pembelajaran adalah proses kerja sama. Proses
pembelajaran minimal akan melibatkan guru dan siswa. Guru tidak mungkin
berjalan sendiri tanpa keterlibatan siswa. Dalam suatu proses pembelajaran guru
tanpa siswa tidak akan memiliki makna. Bukankah segala upaya guru diarahkan untuk
membelajarkan siswa? Apalah artinya guru sebagai pengelola pembelajaran tanpa
siswa yang dikelola? Demikian juga halnya, siswa tanpa guru dalam proses
pembelajaran tidak mungkin berjalan efektif, apalagi untuk siswa yang masih
memerlukan bimbingan sepenuhnya pada guru, misalnya siswa pada tingkat
pendidikan dasar, maka peran guru sangat diperlukan. Dengan demikian, dalam
proses pembelajaran guru dan siswa perlu bekerja sama secara harmonis. Di sini
pentingya perencanaan pembelajaran. Guru perlu merencanakan apa yang harus
dilakukan oleh siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, di
samping guru juga harus merencanakan apa yang sebaiknya diperankan oleh dirinya
sebagai pengelola pembelajaran.
Ketiga, proses pembelajaran adalah proses yang kompleks.
Pembelajaran bukan hanya sekadar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi
suatu pembentukan perilaku siswa. Siswa adalah organisma yang unik, yang sedang
berkembang. Siswa bukan benda mati yang dapat diatur begitu saja. Mereka
memiliki minat dan bakat yang berbeda; mereka juga memiliki gaya belajar yang
berbeda. Itulah sebabnya proses pembelajaran adalah proses yang kompleks, yang
harus memperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
Kemungkinan-kemungkinan itulah yang selanjutnya memerlukan perencanaan yang
matang dari setiap guru.
Keempat, proses pembelajaran kan efektif manakala
memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang tersedia termasuk memanfaatkan
berbagai sumber belajar. Salah satu kelemahan guru dewasa ini dalam pengelolaan
pembelajaran adalah kurangnya pemanfaatan saran dan prasarana yang tersedia.
Dibandingkan dengan profesi lain, guru termasuk profesi yang sangat lambat
dalam memanfaatkan berbagai hasil-hasil teknologi. Dewasa ini, seiring dengan
kemajuan ilmu pengetahuan, begitu pesatnya kemajuan dan perkembangan
hasil-hasil teknologi. Banyak sekali jenis-jenis hasil teknologi yang dapat
digunakan oleh guru untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Untuk
menyampaikan materi pelajaran misalnya, guru dapat memanfaatkan OHP atau LCD,
dengan bantuan program komputer. Untuk memberikan sumber belajar yang lebih
beragam dan mutakhir, guru dapat memanfaatkan Internet dan lain sebagainya.
Proses pembelajaran akan efektif manakala guru memanfaatkan sarana dan
prasarana secara tepat. Untuk itu perlu perencanaan yang matang bagaimana
memanfaatkannya untuk keperluan pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif
dan efisien.
Memperhatikan beberapa hal di atas, maka perencanaan
pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan tidak sederhana. Proses
perencanaan memerlukan pemikiran yang matang, sehingga akan berfungsi sebagi
pedoman dalam mencapai tujuan pembelajaran.
C.
Manfaat
Perencanaan Pembelajaran
Seperti
yang kita ketahui untuk mencapai hasil yang optimal, senantiasa tersedia berbagai
alternatif. Ketika kita menyusun perencanaan, tentu kita akan mengambil
keputusan alternatif mana yang terbaik agar proses pencapaian tujuan berjalan
secara efektif. Dengan demikian, ada beberapa manfaat yang dapat kita petik
dari penyusunan proses pembelajaran.
1. Melalui
proses perencanaan untuk mencapai hasil yang matang, kita akan terhindar dari
keberhasilan yang bersifat untung-untungan. Artinya, dengan perencanaan yang
matang dan akurat, kita akan mampu memprediksi seberapa besar keberhasilan yang
akan dapat dicapai. Mengapa demikian? Sebab perencanaan disusun untuk
memperoleh keberhasilan, dengan demikian kemungkinan-kemungkinan kegagalan
dapat diantisipasi oleh setiap guru. Coba anda bayangkan apa yang akan terjadi
manakala guru dalam proses pembelajaran tidak memahami dengan jelas tujuan apa
yang harus dicapai oleh siswa, strategi apa yang harus dilakukan, media dan
sumber belajar apa yang harus digunakan, tentu saja proses pembelajaran akan
berlangsung seadanya, dan hasilnya pun tentu saja tidak akan optimal.
Bandingkan dengan guru yang pengelolaan pembelajaran direncanakan dengan
matang. Misalnya guru paham tujuan apa yang harus dicapai siswa, strategi apa
yang pantas dilakukan sesuai dengan tujuan, darimana sumber yang dapat
digunakan, tentu saja hasilnya pun akan lebih bagus dan optimal. Inilah makna
bahwa salah satu manfaat perencanaan adalah kita akan terhindar dari hasil yang
bersifat untung-untungan.
2. Sebagai
alat untuk memecahkan masalah. Seorang perencana yang baik akan dapat
memprediksi kesulitan apa yang akan dihadapi oleh siswa dalam mempelajari
materi pelajaran tertentu. Dengan perencanaan yang matang guruakan dengan mudah
mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin timbul. Kita mesti menyadari bahwa
proses pembelajaran adalah proses yang kompleks dan sangat situasional.
Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Melalui perencanaan yang matang kita akan
dengan mudah mengantisipasi sebab berbagai kemungkinan sudah diantisipasi
sebelumnya.
3. Untuk
memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat. Seiring dengan perkembangan
dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dewasa ini banyak sekali
sumber-sumber belajar yang dianggap cocok dengan tujuan pembelajaran. Dalam
rangka inilah perencanaan yang matang diperlukan. Melalui perencanaan, guru dapat
menentukan sumber-sumber mana saja yang dianggap tepat untuk mempelajari suatu
bahan pembelajaran.
4. Perencanaan
akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis artinya, proses
pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, akan tetapi akan berlangsung
secara terarah dan terorganisir. Dengan demikian, guru dapat menggunakan waktu
seefektif mungkin untuk keberhasilan proses pembelajaran. Mengapa demikian?
Sebab, melalui perencanaan yang matang guru akan bekerja setahap demi setahap
untuk menuju perubahan yang diinginkan sesuai dengan tujuan.
D.
Prinsip
Perencanann Pembelajaran
Berdasarkan pengertian-pengertian
perencanaan pembelajaran di atas dapat di tarik suatu penegasan, bahwa
perencanaan pembelajaran adalah sebagai kegiatan yang terus menerus dan
menyeluruh, dimulai dari penyusunan suatu rencana evaluasi pelaksanaan dan
hasil yang dicapai dari tujuan yang sudah ditetapkan.
Sementara dalam prakteknya, pengembangan
prencanaan pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sehingga proses
yang ditempuh dapat dilaksanakan secara efektif, diantara prinsip-prinsip
tersebut adalah:
1. Kompetensi
yang dirumuskan dala perencanaan pembelajaran harus jelas, konkrit, kompetensi
mudah diamati.
2. Perencanaan
pembelajaran bersifat sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaksanakan dalam
kegiatan pembelajaran, dan pembentukan kompetensi siswa.
3. Kegiatan-kegiatan
yang disusun dan dikembangkan dalam perncanaan pembelajaran harus menunjang,
dan sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan.
Prinsip-prinsip yang harus dijadikan
dasar dalam merancang pembelajaran harus memenuhi unsur :
1. Ilmiah
yaitu keseluruhan materi yang dikembangkan atau dirancang oleh guru termasuk
kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus dan rencana pelaksanaan dan
pembelajaran, harus benar dan dapat dipertanggung jawabkan seacara keilmuan.
2. Relevan
yaitu bahwa setiap materi memiliki ruang lingkup atau cakupan dan
sistematikanya atau urutan penyajiannya.
3. Sistematis
yaitu unsur perencanaan baik untuk perencanaan jenis silabus maupun perencanaan
untuk rencana pelaksanaan pembelajaran, antara unsur yang satu dengan unsur
yang lainnya harus saling terkait, mempengaruhi, menentukan dan suatu kesatuan
yang utuh untuk mencapai suatu tujuan atau kompetensi.
4. Konsisten
yaitu adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar, indikator, materi
pokok, pengalaman belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai
yaitu cakupan indikator, materi pokok, pengalaman, sumber belajar dan sistem
penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual
dan kontekstual yaitu cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar,
sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu,
teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel
yaitu keseluruhan komponen silabus maupun rencana pelaksanaan pembelajaran
harus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika
perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh
yaitu komponen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran harus mencakup
keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
E.
Tujuan
dan Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Salah
satu faktor yang membawa keberhasilan pembelajaran adalah guru senantiasa membuat perencanaan
pengajaran sebelumnya. Pada garis besar perencanaan pembelajaran itu mempunyai tujuan
dan fungsi untuk mengarahkan dan membimbing kegiatan guru dan siswa dalam
proses pembelajaran.
1.
Tujuan
Perencanaan
Secara ideal tujuan perencanaan
pembelajaran adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar, metode dan
penggunaan alat dan perlengkapan pembelajaran, menyampaikan atas dasar bahasan
dan mengelola alokasi waktu yang tersedia serta membelajarkan siswa sesuai yang
diprogramkan. Tujuan pembelajaran itu memungkinkan guru memilih metode yang
sesuai sehingga proses pembelajaran itu mengarah dan dapat mencapai tujuan yang
telah dirumuskan. Bagi guru setiap pemilihan metode berarti menentukan proses
belajar mengajar mana yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan. Hal ini juga mengarahkan bagaimana guru mengorganisasikan
kegiatan-kegiatan siswa dalam proses pembelajaran yang telah dipilihnya. Dengan
demikian betapa pentingnya tujuan itu diperhatikan dan dirumuskan dalam setiap
pembelajaran agar pembelajaran itu benar-benar dapat mencapai tujuan
sebagaimana yang tertuang dalam kurikulum.
2.
Fungsi
Perencanaan
Perencanaan pembelajaran memiliki
beberapa fungsi di antaranya seperti dijelaskan berikut ini :
a. Fungsi
Kreatif
Pembelajaran
dengan menggunakan perencanaan yang matang, akan dapat memberikan umpan balik
yang dapat menggambarkan berbagai kelemahan yang terjadi. Melalui umpan balik
itulah guru dapat meningkatkan dan memperbaiki program. Secara kreatif, guru
akan selalu memperbaiki berbagai kelamahan dan menemukan hal-hal baru.
b.
Fungsi Inovatif
Mungkinkah
suatu inovasi pembelajaran akan muncul tanpa direncanakan, atau tanpa diketahui
terlebih dahulu berbagai kelemahan? Tidak, bukan? Suatu inovasi ahanya akan
mungkin muncul seandainya kita memahami
adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Kesenjangan itu hanya mungkin
dapat ditangkap manakala kita memahami proses yang dilaksanakan secara sistematis.
Proses pembelajaran sistematis itulah yang direncanakan dan terprogram secara
utuh. Dalam kaitan inilah perencanaan memiliki fungsi inovasi.
c.
Fungsi Selektif
Adakalanya
untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran pembelajaran kita dihadapkan kepada
berbagai pilihan strategi. Melalui proses perencanaan kita dapat menyeleksi
strategi mana yang kita anggap lebih efektif dan efisien untuk dikembangkan.
Tanpa suatu perencanaan tidak mungkin kita dapat menentukan pilihan yang tepat.
Fungsi selektif ini juga berkaitan dengan pemilihan materi pelajaran yang
dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran. Melalui proses perencanaan guru
dapat menentukan materi mana yang sesuai dan materi mana yang tidak sesuai.
d.
Fungsi Komunikatif
Suatu
perencanaan yang memadai harus dapat menjelaskan kepada setiap orang yang
terlibat, baik kepada guru, pada siswa, kepala sekolah bahkan kepada pihak
eksternal seperti kepada orang tua dan masyarakat. Dokumen perencanaan harus
dapat mengomunikasikan kepada setiap orang, baik tentang tujuan dan hasil yang
ingin dicapai, strategi atau rangkaian kegiatan yang dapat dilakukan. Oleh
sebab itu, perencanaan memiliki fungsi komunikasi.
e.
Fungsi Prediktif
Perencanaan
yang disusun secara benar dan akurat, dapat menggambarkan apa yang akan terjadi
setelah dilaksanakan suatu treatment sesuai demgan program yang disusun.
Melalui fungsi prediktifnya, perencanaan dapat menggambarkan berbagai kesulitan
yang akan terjadi. Di samping itu, fungsi predikif dapat menggambarkan hasil
yang akan diperoleh.
f.
Fungsi Akurasi
Sering
terjadi, guru merasa kelebihan bahan pelajaran sehingga mereka merasa waktu
yang tersedia tidak sesuai dengan banyaknya bahan yang harus dipelajari siswa.
Akibatnya, proses pembelajaran berjalan tidak normal lagi, sebab kriteria
keberhasilan diukur dari sejumlah materi pelajaran yang telah disampaikan pada
siswa tidak peduli materi itu dipahami atau tidak. Perencanaan yang matang
dapat menghindari hal tersebut. Sebab, melalui proses perencanaan guru dapat
menakar setiap waktu yang diperlukan untuk menyampaikan bahan pelajaran
tertentu. Guru dapat menghitung jam pelajaran efektif, melalui program
perencanaan.
g.
Fungsi Pencapaian Tujuan
Mengajar
bukanlah sekedar menyampaikan materi, akan tetapi membentuk manusia secara
utuh. Manusia utuh bukan hanya berkembang dalam aspek intelektual saja, akan
tetapi juga dalam sikap dan keterampilan. Dengan demikian pembelajaran memiliki
dus sisi yang sama pentingnya, yakni sisi hasil belajar dan sisi proses
belajar. Melalui perencanaan itulah kedua sisi pembelajaran dapat dilakukan
secara seimbang.
h.
Fungsi Kontrol
Mengontrol
keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dalam suatu proses pembelajaran tertentu. Melalui perencanaan kita
dapat menentukan sejauh mana materi pelajaran telah dapat diserap oleh siswa,
materi mana yang sudah dan belum dipahami oleh siswa. Dalam hal inilah
perencanaan berfungsi sebagai kontrol, yang selanjutnya dapat memberikan
balikan kepada guru dalam mengembangkan program pembelajaran selanjutnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Perencanaan
pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional
tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku
serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian
tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada.
2. Perencanaan
pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan tidak sederhana. Proses
perencanaan memerlukan pemikiran yang matang, sehingga akan berfungsi sebagi
pedoman dalam mencapai tujuan pembelajaran.
3. Manfaat
perencanaan pembelajaran adalah
a. Melalui
proses perencanaan untuk mencapai hasil yang matang, kita akan terhindar dari
keberhasilan yang bersifat untung-untungan.
b. Sebagai
alat untuk memecahkan masalah.
c. Untuk
memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat.
d. Perencanaan
akan dapat membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis.
4. Prinsip-prinsip
yang harus dijadikan dasar dalam merancang pembelajaran harus memenuhi unsur :
a. Ilmiah
b. Relevan
c. Sistematis
d. Konsisten
e. Memadai
f. Aktual
g. Feksibel
h. Menyeluruh
5. Tujuan
perencanaan pembelajaran adalah menguasai sepenuhnya bahan dan materi ajar,
metode dan penggunaan alat dan perlengkapan pembelajaran, menyampaikan atas
dasar bahasan dan mengelola alokasi waktu yang tersedia serta membelajarkan
siswa sesuai yang diprogramkan. Sedangkan fungsi perencanaan pembelajaran
meliputi:
a. Fungsi
kreatif
b. Fungsi
inovatif
c. Fungsi
selektif
d. Fungsi
komunikatif
e. Fungsi
prediktif
f. Fungsi
akurasi
g. Fungsi
pencapaian tujuan
h. Fungsi
kontrol
B.
Saran
Penulisan makalah ini diharapkan kepada mahasiswa
dan para pembaca untuk meningkatkan pemahaman tentang perencanaan pembalajaran.
Mulai dari pengertian, dasar penting, manfaat, prinsip serta tujuan dan fungsi
perencanaan pembelajran.
Dengan keterbatasan
pemikiran dan sumber materi yang menjadi acuan dalam pembuatan makalah ini,
maka penulis harapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dalam penyusunan
makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya, Wina.
2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Bandung: Kencana Prenada
Media Group.
Maya Kartika
Sari, dkk. 2015. Pengembangan Pembelajaran IPS SD. Madiun: IKIP PGRI Madiun.
Hasani, Nur. 2013.
Perencanaan Pembelajaran (online).
Anonim.
2011. Tujuan Perencanaan Pembelajaran (online).